Jakarta – Di dunia MMA, tidak semua petarung menemukan jalannya melalui satu disiplin bela diri. Tabatha Ricci justru tumbuh dari perpaduan berbagai seni tempur yang kemudian membentuk identitasnya sebagai salah satu petarung papan atas kelas strawweight UFC. Lahir di Birigui, São Paulo, Brasil, pada 21 Februari 1995, Ricci kini dikenal dengan julukan “Baby Shark”. Dengan tinggi 155 cm dan jangkauan 155 cm, ia memang bukan petarung terbesar di kelas 115 pound, tetapi kecepatan, agresivitas, kemampuan grappling, serta keberaniannya menghadapi lawan-lawan elite membuatnya menjadi ancaman serius. Hingga September 2026, Ricci tercatat memiliki rekor profesional 12 kemenangan dan 5 kekalahan, dengan dua kemenangan KO/TKO, tiga submission, dan tujuh kemenangan melalui keputusan.
Kecintaan Ricci terhadap bela diri berawal sangat dini. Ayahnya, Carlos Salto “Trovão”, adalah praktisi judo yang menjadi sosok paling berpengaruh dalam perjalanan kariernya. Pada usia enam tahun, Ricci mulai berlatih judo dan langsung menemukan dunianya. Ia kemudian memperluas kemampuan dengan mempelajari muay Thai pada usia 15 tahun dan Brazilian jiu-jitsu dua tahun kemudian. Saat berusia 18 tahun, ia menjalani pertarungan MMA pertamanya. Latar belakang tersebut menjelaskan mengapa permainan Ricci sangat berorientasi pada grappling, tetapi tidak berhenti di sana. Ia juga memiliki pengalaman kompetisi muay Thai, bahkan memenangkan kejuaraan nasional Brasil di level amatir. Di BJJ, ia meraih dua gelar dunia dan beberapa kali menjadi runner-up kejuaraan dunia.
Karier profesional MMA Ricci dimulai pada Desember 2013. Dalam debutnya, ia mengalahkan Danielle Cunha melalui armbar pada ronde pertama. Setahun kemudian, ia mengalahkan Graziele Ricotta lewat keputusan mutlak. Setelah itu, perjalanan Ricci sempat mengalami jeda panjang. Ia tidak bertanding MMA sejak akhir 2014 hingga kembali pada 2020, sementara dalam periode tersebut ia lebih banyak berkompetisi di grappling. Ricci juga menjalani tujuh pertandingan di Jepang dalam kompetisi SEIZA dengan enam kemenangan. Ketika Legacy Fighting Alliance merekrutnya pada 2020, ia datang sebagai prospek tak terkalahkan dengan rekor 2-0. Tiga kemenangan berikutnya di LFA—atas Kelsey Arnesen, Vanessa Marie Grimes, dan Shawna Ormsby—membawanya ke level UFC dengan rekor 5-0.
Debut UFC datang secara mendadak. Pada Juni 2021, Ricci menerima kesempatan menghadapi Manon Fiorot hanya dengan pemberitahuan singkat setelah Maryna Moroz mundur. Pertarungan itu berlangsung di kelas flyweight dan berakhir dengan kekalahan TKO pada ronde kedua. Alih-alih terpuruk, Ricci kembali ke strawweight dan membangun fondasi baru. Ia mengalahkan Maria Oliveira, Polyana Viana, kemudian Jessica Penne melalui armbar pada UFC 285. Kemenangan atas Penne menjadi salah satu penampilan penting dalam perkembangannya karena memperlihatkan kualitas jiu-jitsu yang selama ini menjadi fondasi permainannya. Ia kemudian menundukkan Gillian Robertson melalui keputusan sebelum mengalami kekalahan tipis dari Loopy Godinez.
Memasuki 2024, Ricci semakin matang sebagai petarung MMA modern. Ia mengalahkan Tecia Pennington dan Angela Hill secara beruntun melalui keputusan, sebelum kalah dari Yan Xiaonan pada November. Namun, titik balik besar datang pada Juli 2025 ketika ia menghadapi sesama petarung Brasil, Amanda Ribas, di Abu Dhabi. Ricci tampil agresif dan menghentikan Ribas melalui TKO akibat serangan pada ronde kedua. Kemenangan tersebut menjadi salah satu kemenangan terbesar dalam kariernya dan kembali menempatkannya dalam percakapan mengenai jajaran penantang elite strawweight.
Setelah kemenangan atas Ribas, Ricci mendapat ujian besar ketika menghadapi mantan penantang gelar Virna Jandiroba pada April 2026. Pertarungan itu mempertemukan dua pemilik latar belakang grappling kuat, tetapi Jandiroba mampu mengontrol sebagian besar pertarungan melalui takedown dan ground control untuk menang lewat keputusan mutlak. Hanya beberapa bulan kemudian, Ricci kembali bertarung secara short notice menghadapi prospek muda Fatima Kline di UFC Oklahoma City. Kali ini Ricci kembali kalah melalui keputusan mutlak dengan skor 30-27 dari ketiga juri. Hasil tersebut membuat rekornya menjadi 12-5, sekaligus menunjukkan bahwa perjalanan menuju perebutan gelar masih membutuhkan satu atau beberapa kemenangan penting lagi.
Di balik gaya bertarungnya terdapat mentalitas yang dibentuk sejak kecil. Ricci pernah menggambarkan pengaruh sang ayah sebagai pendidikan dengan latar budo dan bushido, sementara dirinya mengaku menyukai tantangan serta adrenalin kompetisi. Di dalam Octagon, fondasi judonya terlihat melalui kemampuan clinch dan takedown, sementara BJJ memberinya kemampuan mencari submission—tiga kemenangan submission profesionalnya semuanya datang melalui armbar. Namun, evolusinya juga terlihat dalam striking. Ricci secara khusus menyebut right hook sebagai teknik striking favoritnya, dan ia terus mengembangkan tinju, muay Thai, wrestling, serta conditioning. Rutinitas latihannya mencakup wrestling di Ventura, sparring MMA dan muay Thai di Black House MMA, boxing di Knuckleheadz, strength and conditioning di ALX, serta latihan sekaligus mengajar BJJ di Paragon BJJ.
Kini, “Baby Shark” berada pada fase penting kariernya. Ia bukan lagi sekadar prospek yang datang dari Brasil dengan kemampuan jiu-jitsu luar biasa, melainkan petarung UFC berpengalaman yang telah menghadapi sejumlah nama kuat di kelas strawweight. Kekalahan dari Jandiroba dan Kline memang menghentikan momentumnya, tetapi perjalanan Ricci menunjukkan karakter seorang kompetitor yang terus berevolusi. Dari dojo kecil bersama sang ayah, kompetisi grappling, pertarungan di Jepang, LFA, hingga menjadi petarung Top 10 UFC, jalannya dibangun melalui keberanian mengambil tantangan. Dan seperti julukannya, Baby Shark belum berhenti bergerak—ia masih memburu tempat di puncak divisi 115 pound.
(PR/timKB)
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda




