Jakarta – Di atas ring, Wei Ziqin tidak ingin dikenal sebagai petarung dengan satu gaya. Julukannya, “The Great Sage” atau “Qi Tian Da Sheng”, terinspirasi dari Sun Wukong dalam kisah Journey to the West. Bagi Wei, julukan tersebut bukan sekadar identitas, melainkan gambaran tentang cara ia bertarung: memiliki kemampuan untuk berubah, beradaptasi, dan menghadapi situasi berbeda. Petarung asal China ini lahir pada 15 Juli 1999, memiliki tinggi sekitar 175 sentimeter, dan berlatih di White Shark Fight Club. Ia dikenal sebagai spesialis Muay Thai yang juga memiliki pengalaman kickboxing.
Perjalanan Wei menuju dunia bela diri dimulai dari olahraga tarung yang cukup beragam. Ia pernah mempelajari judo dan sanda sebelum kemudian menemukan jalur yang lebih serius dalam kickboxing. Setelah lulus dari sekolah olahraga pada 2016, Wei bertemu dengan pelatih Gu Hui dan bergabung dengan Chengdu White Shark Fight Club. Setahun kemudian, pada 2017, ia pergi ke Thailand untuk memperdalam Muay Thai. Pengalaman tersebut menjadi salah satu fase penting dalam pembentukan dirinya. Berlatih di negeri yang memiliki tradisi Muay Thai begitu kuat bukan perkara mudah. Wei menghadapi kendala bahasa, harus berkomunikasi dengan pelatih menggunakan gestur, serta mengalami kesulitan menyesuaikan diri dengan makanan dan kehidupan sehari-hari. Namun, ia bertahan dan bahkan memenangkan pertandingan Muay Thai pertamanya di Thailand melalui KO pada ronde pertama.
Sekembalinya ke China, perkembangan Wei berlangsung cepat. Pada 2019, ia tampil dalam ONE Hero Series, ajang pencarian bakat yang menjadi salah satu jalur bagi petarung China menuju panggung ONE. Wei mencatat tiga kemenangan beruntun dengan TKO atas Liu Quan, Liu Yaohong, dan Wang Jiale. Menariknya, ia mampu berpindah antara kickboxing dan Muay Thai serta bertanding di kelas berbeda. Performa tersebut membuatnya mulai dianggap sebagai salah satu talenta muda yang menjanjikan. Dalam sebuah wawancara, Wei menjelaskan bahwa ia tidak ingin sekadar memenangkan pertandingan; ia ingin mengakhiri pertarungan dan mendapatkan perhatian dari ONE Championship.
Kesempatan tampil di panggung internasional ONE akhirnya datang pada 22 September 2023. Awalnya Wei tidak dijadwalkan menjadi lawan Petchartchai Fight Geek Muaythai. Ia justru menerima kesempatan tersebut sekitar satu pekan sebelum pertandingan setelah lawan yang sebelumnya dijadwalkan mundur karena sakit. Tantangannya tidak ringan: Petchartchai merupakan mantan juara dunia WMC. Namun Wei menerima pertarungan tersebut dan tampil dalam duel Muay Thai 127 pound. Ia mampu mengatasi tekanan lawan asal Thailand itu dan meraih kemenangan melalui keputusan mutlak. Debut tersebut menjadi pernyataan penting bahwa pengalaman di kompetisi domestik telah membawanya siap menghadapi level internasional.
Delapan bulan kemudian, Wei kembali ke ring dalam ONE Friday Fights 62 pada 10 Mei 2024. Kali ini ia menghadapi petarung Jepang Riamu Matsumoto dalam pertarungan Muay Thai catchweight 57,6 kilogram. Wei memperlihatkan variasi serangan yang menjadi ciri khasnya: kombinasi pukulan, sikutan, lutut, dan tendangan. Pada ronde kedua, ia bahkan menjatuhkan Matsumoto melalui pukulan kanan saat melakukan serangan balik. Setelah tiga ronde, Wei dinyatakan menang melalui keputusan mutlak. ONE mencatat kemenangan tersebut membuat rekornya menjadi 2-0 di panggung ONE pada periode itu.
Namun, momentum tersebut akhirnya terhenti ketika Wei menghadapi Takuma Ota pada ONE Friday Fights 85, 1 November 2024. Bertanding dalam Muay Thai 126 pound, Wei harus melewati tiga ronde sebelum akhirnya kalah melalui keputusan mutlak. Kekalahan itu menunjukkan bahwa perjalanan menuju level elite tidak selalu berjalan lurus. Bagi petarung seperti Wei, kemampuan beradaptasi kembali menjadi sangat penting karena setiap lawan membawa karakter dan pendekatan yang berbeda.
Gaya bertarung Wei sangat identik dengan tekanan, volume serangan, dan variasi teknik. Ia mampu menggabungkan pukulan dengan tendangan, lutut, dan sikutan tanpa terpaku pada satu pola. Dalam pertarungan melawan Matsumoto, misalnya, ia tidak hanya maju menyerang, tetapi juga mampu memanfaatkan serangan balik. Wei sendiri pernah menggambarkan filosofi bertarungnya melalui julukan “The Great Sage”: seperti Sun Wukong yang memiliki 72 perubahan, ia ingin memiliki banyak cara untuk menghadapi lawan. Ia juga dikenal memiliki daya tahan terhadap serangan dan mental bertanding yang kuat.
Dalam persiapan menghadapi pertandingan, Wei tidak hanya mengejar teknik. Menjelang duel dengan Matsumoto, ia meningkatkan daya ledak dan kekuatan fisik. Setelah kemenangan atas Petchartchai, ia juga menyebut peningkatan kekuatan fisik dan “body hardness” sebagai bagian dari rencana latihan berikutnya. Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa perkembangan Wei dibangun melalui kombinasi teknik, kondisi fisik, dan kesiapan mental.
Secara profesional, profil resmi ONE saat ini mencatat Wei memiliki 5 kemenangan dan 2 kekalahan dalam tujuh pertandingan di ONE, dengan tiga kemenangan melalui TKO dan dua melalui keputusan mutlak. Ia berkompetisi terutama dalam Muay Thai di sekitar kelas 126–127 pound, atau sekitar 57 kilogram. Perjalanan dari sekolah olahraga, latihan keras di Thailand, kemenangan beruntun di ONE Hero Series, hingga panggung Lumpinee menunjukkan satu hal: Wei Ziqin bukan petarung yang dibentuk oleh jalan singkat. Ia ditempa melalui perpindahan disiplin, pengalaman lintas negara, kesempatan mendadak, dan pertarungan melawan lawan-lawan dengan karakter berbeda. Dan seperti julukannya, “The Great Sage”, kekuatan terbesarnya mungkin justru terletak pada kemampuannya untuk terus berubah.
(PR/timKB)
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda