Jakarta – Di divisi heavyweight UFC, kekuatan pukulan sering menjadi sorotan utama. Namun, hanya sedikit petarung yang mampu memadukan kekuatan tersebut dengan pengalaman, ketenangan, dan kecerdasan bertarung. Salah satu sosok yang pernah menjadi langganan pertarungan sengit di kelas para raksasa itu adalah Shamil Abdurakhimov. Petarung asal Rusia yang lahir pada tahun 1981 ini dikenal sebagai striker ortodoks dengan kemampuan stand-up yang solid, daya tahan tinggi, dan pengalaman bertanding yang panjang. Dengan tinggi badan 191 sentimeter dan berat sekitar 115 kilogram, Abdurakhimov membangun reputasinya sebagai salah satu heavyweight Rusia yang mampu bersaing di panggung UFC selama bertahun-tahun. Julukan “Abrek”, yang diambil dari istilah tradisional Kaukasus untuk seorang pejuang pemberani, mencerminkan karakter keras dan pantang menyerah yang selalu ia tampilkan di dalam oktagon.

Lahir di Dagestan, Rusia, wilayah yang terkenal sebagai penghasil atlet bela diri kelas dunia, Abdurakhimov tumbuh dalam lingkungan yang menjunjung tinggi disiplin dan olahraga tarung. Meski Dagestan identik dengan gulat dan sambo, ia justru lebih dahulu mengembangkan kemampuannya di cabang striking. Sejak usia muda, ia tertarik mempelajari berbagai disiplin bela diri, terutama kickboxing dan sanda. Kombinasi teknik pukulan dan tendangan yang dipelajarinya sejak dini kemudian menjadi fondasi utama ketika memutuskan beralih ke dunia mixed martial arts.

Perjalanan menuju level profesional tidak berlangsung instan. Sebelum memasuki MMA, Abdurakhimov telah mengumpulkan banyak pengalaman dalam berbagai kompetisi striking. Jam terbang tersebut membentuk karakter bertarungnya yang tenang dan penuh perhitungan. Ketika akhirnya memutuskan berkarier di MMA, ia menyadari bahwa kemampuan berdiri saja tidak cukup. Ia mulai memperdalam teknik wrestling, grappling, serta pertahanan bawah agar mampu menghadapi berbagai tipe lawan.

Karier profesionalnya berkembang melalui berbagai organisasi regional di Rusia dan Eropa. Berkat kombinasi pukulan keras, tendangan efektif, serta pengalaman menghadapi lawan-lawan berkualitas, Abdurakhimov perlahan membangun reputasi sebagai salah satu heavyweight terbaik di kawasan tersebut. Rekor kemenangan yang terus bertambah akhirnya membuka jalan menuju organisasi MMA terbesar di dunia.

Kesempatan bergabung dengan Ultimate Fighting Championship (UFC) datang pada tahun 2015. Bagi Abdurakhimov, bergabung dengan UFC merupakan puncak dari perjalanan panjang yang telah ia tempuh selama bertahun-tahun. Debutnya berlangsung melawan Timothy Johnson, salah satu petarung heavyweight yang dikenal memiliki gaya bertarung agresif. Meski harus menghadapi tekanan besar pada laga pertamanya di UFC, Abdurakhimov menunjukkan bahwa dirinya layak berada di organisasi elite tersebut.

Perjalanan awalnya di UFC memang tidak selalu mulus. Ia harus beradaptasi dengan level kompetisi yang jauh lebih tinggi dibandingkan promotor sebelumnya. Namun, pengalaman panjang yang dimilikinya membantu proses adaptasi tersebut. Perlahan tetapi pasti, ia mulai meraih kemenangan penting dan memperlihatkan kualitasnya sebagai petarung yang mampu bersaing dengan nama-nama besar di divisi heavyweight.

Sepanjang kariernya di UFC, Abdurakhimov menghadapi sejumlah petarung papan atas. Ia pernah bertarung melawan nama-nama seperti Walt Harris, Andrei Arlovski, Marcin Tybura, Curtis Blaydes, Chris Daukaus, hingga Jairzinho Rozenstruik. Menghadapi lawan-lawan dengan gaya bertarung yang sangat beragam membuatnya terus berkembang sebagai atlet. Beberapa kemenangan penting atas petarung berpengalaman membuktikan bahwa dirinya bukan sekadar pelengkap di divisi heavyweight, melainkan penantang yang mampu memberikan perlawanan sengit kepada siapa pun.

Salah satu periode terbaik dalam kariernya terjadi ketika ia mencatat beberapa kemenangan beruntun yang membawanya masuk ke jajaran petarung yang diperhitungkan di kelas heavyweight. Pada masa tersebut, banyak pengamat menilai Abdurakhimov sebagai salah satu petarung yang memiliki peluang menembus peringkat atas. Sayangnya, cedera serta usia yang terus bertambah membuat konsistensinya mulai menurun ketika harus menghadapi generasi heavyweight yang lebih muda dan lebih eksplosif.

Secara keseluruhan, Abdurakhimov membukukan 20 kemenangan dan 8 kekalahan sepanjang karier profesionalnya. Catatan tersebut mencerminkan perjalanan panjang seorang atlet yang mampu bertahan di level tertinggi selama bertahun-tahun, sesuatu yang tidak mudah dilakukan di divisi heavyweight yang terkenal sangat kompetitif.

Gaya bertarung Abdurakhimov sangat dipengaruhi latar belakangnya sebagai striker. Ia dikenal memiliki pukulan lurus yang akurat, tendangan keras ke arah kaki maupun tubuh, serta kemampuan menjaga jarak dengan baik. Berbeda dengan banyak heavyweight yang mengandalkan serangan membabi buta, Abdurakhimov lebih memilih membangun ritme pertandingan secara perlahan. Ia sabar membaca pola permainan lawan sebelum melancarkan kombinasi serangan yang efektif.

Walaupun lebih nyaman bertarung dalam posisi berdiri, ia tidak pernah mengabaikan aspek grappling. Selama berkarier di MMA, Abdurakhimov terus meningkatkan kemampuan bertahan dari takedown serta permainan di bawah. Hal tersebut membuatnya mampu menghadapi petarung dengan latar belakang gulat tanpa terlalu banyak mengalami kesulitan. Pengalaman bertanding yang luas juga membuatnya jarang kehilangan ketenangan ketika berada dalam situasi sulit.

Filosofi bertarung Abdurakhimov sederhana namun kuat. Ia percaya bahwa kemenangan merupakan hasil dari disiplin dan konsistensi dalam menjalani latihan. Baginya, seorang petarung tidak boleh hanya mengandalkan bakat alami. Kerja keras setiap hari, menjaga kondisi fisik, serta kesiapan mental menjadi faktor yang jauh lebih menentukan ketika memasuki oktagon.

Rutinitas latihannya mencakup sesi striking, wrestling, Brazilian Jiu-Jitsu, latihan kekuatan, daya tahan, hingga analisis video pertandingan lawan. Meski telah berstatus veteran, ia tetap menjalani persiapan dengan intensitas tinggi. Dedikasi tersebut menunjukkan profesionalisme yang membuatnya mampu bertahan di UFC hingga usia yang tidak lagi muda untuk ukuran seorang petarung heavyweight.

Tantangan terbesar yang dihadapi Abdurakhimov sepanjang kariernya adalah menghadapi regenerasi di divisi heavyweight. Munculnya petarung-petarung muda dengan kemampuan atletik luar biasa memaksanya terus beradaptasi. Cedera juga menjadi faktor yang beberapa kali menghambat lajunya. Namun, ia tetap dikenang sebagai petarung yang tidak pernah memilih lawan dan selalu bersedia menghadapi siapa pun yang ditawarkan UFC.

Meski tidak pernah menjadi juara dunia, Shamil Abdurakhimov telah meninggalkan jejak yang berarti dalam sejarah divisi heavyweight UFC. Ia membuktikan bahwa kerja keras, disiplin, dan pengalaman mampu membawa seorang atlet dari arena-arena regional di Rusia menuju panggung terbesar dunia. Dengan rekor profesional 20 kemenangan dan 8 kekalahan, serta karier panjang melawan banyak nama besar, “Abrek” tetap dikenang sebagai salah satu heavyweight Rusia paling tangguh yang pernah berlaga di UFC.

(PR/timKB)

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda